Ranting yang Mulai Rapuh

Puisi sedih

Dan sekarang aku sadar, kita hanya ditakdirkan untuk bertemu, tidak untuk bersatu.
Susah memang mencari ranting yang tidak akan rapuh, meski dia memiliki daun yang rindang, sangat tidak menjamin atas keabadian buahnya.

Mungkin di matamu, aku hanya angin yang akan menjatuhkan puing-puing daun yang rapuh, merusak batang yang roboh, menebang pohon yang rindang.

Kamu mungkin tidak sadar, dibalik rindangnya pohon, ada aku yang selalu menyirami akar agar dia selalu tumbuh dan segar.

Memberikan berjuta rasa dalam bentuk buah yang manis, memberi berjuta kenikmatan bagi semua orang yang mengenalnya.

Aduhai, kenapa ranting itu mulai rapuh, kenapa daun itu mulai terjatuh,

Apa aku yang salah, apa aku yang kurang menyirami, atau mungkin pohon itu sudah tidak lagi ingin aku sirami, dan dia mulai membutuhkan hujan lebat yang Mengguyuri.

Apalah aku, dimatamu hanya petir yang membawa petaka, aku hanya badai yang membawa luka, aku hanya seekor tupai, yang singgah dipohon lebat, lalu kemudian kau usir.

Ok, sekarang aku mengerti kenapa kau memberi buah yang asam, kenapa kau tak izinkan aku berteduh dalam daun rindangmu.

Karena kau mengharapkan hujan, bukan petir, karena kau mengharapkan cerah, bukan badai.

Baik, disaat hujan tak lagi turun, jangan berharap aku datang lalu memberikanmu tetesan air untuk menyirami akar yang kering.

Disaat kamu membutuhkan aku, mungkin aku telah menemukan lautan, untuk kemudian aku menyelam.

Dan jangan berharap aku akan berbagi air, karena aku disaat membutuhkan keteduhan, kau tak sedikitpun memberikanku izin untuk berteduh meski sekejap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar